25% Penderita Osteoporosis Meninggal Setelah Mengalami Patah Tulang Pinggul

Tentu sudah banyak di antara Anda yang mengenal osteoporosis. Penyakit yang juga dikenal sebagai pengeroposan tulang ini memiliki sifat khas, yakni massa tulang yang rendah yang disertai terjadinya penurunan kualitas jaringan tulang. Dan inilah yang bermuara pada kerapuhan tulang. Osteoporosis tak memandang jenis kelamin. Kendati demikian, data membuktikan, penyakit ini banyak terjadi pada wanita pascamenopause karena berhubungan dengan hormon estrogen yang sangat erat kaitannya dengan pembentukan dan penyerapan tulang. Banyak efek negatif yang bisa ditimbulkan osteoporosis, di antaranya patah tulang. Dan patah itu kerap terjadi pada pinggul. Ini membuat pinggul nyeri, gerak tubuh kaku, dan penampilan tak lagi menarik lantaran badan sudah terbungkuk. Menurut data statistik, osteoporosis menjadi salah satu penyebab kematian terbesar bagi manusia di usia lanjut. Hanya satu dari enam wanita dengan patah tulang pinggul yang mampu bertahan. Sekitar 25% orang bahkan meninggal dalam waktu 6-12 bulan setelah mengalami patah tulang pinggul. Hal itu terjadi karena operasi penggantian pinggul bisa menyebabkan problem lain, seperti aritmia, pneumonia, serangan jantung, komplikasi anestesi, dan infeksi. Untuk pria, angka ini bahkan lebih buruk. Lalu, juga menurut statistik, sekitar 30% dari semua kasus osteoporosis disebabkan oleh predisposisi genetik. Jadi, jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita osteoporosis, berhati-hatilah. Anda perlu mengambil pendekatan aktif untuk mencegah silent killer ini.

Untuk mencegah terjadinya osteoporosis itu, sejak muda kita seharusnya sudah aware dengan tulang kita. Dan kebutuhan tulang kita mesti kita ketahui. Tulang kita beregenerasi dari waktu ke waktu. Saat kanak-kanak, tulang kita tumbuh dan mampu memperbarui diri dengan cepat. Tapi, pada saat kita berusia 16-18 tahun, tulang perlahan-lahan berhenti tumbuh, sementara massanya terus bertambah hingga usia kita di akhir 20-an. Namun, proses ini melambat bersamaan dengan pertambahan usia. Perlahan tapi pasti, kepadatan tulang kita akan berkurang, dan proses ini dimulai di sekitar umur 35 tahun. Lalu, bagaimana mengatasinya agar kepadatannya tak berkurang? (1) Kurangi konsumsi gula. (2) Pilih makanan yang kaya dengan vitamin D dan kalsium. (3) Lakukan deteksi dini terhadap osteoporosis berupa pemeriksaan densitas tulang. (4) Dapatkan paparan sinar matahari pagi yang cukup. (5) Lakukan olahraga beban yang cukup. (6) Jaga keseimbangan estrogen. (7) Konsumsi kolagen, karena ia bisa membantu tubuh meningkatkan kepadatan tulang dengan cara meregenerasi tulang rawan dan otot yang mengelilingi tulang, terutama pada sendi.

Saat ini banyak produk penghilang gangguan tulang dan sendi yang ditawarkan. Namun, kebanyakan terbuat dari bahan kimia sintetis sehingga berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi dalam jangka panjang. Sedangkan komposisi Kola Go semuanya alami. Produk ini sekarang sudah bisa didapatkan di apotek, toko obat, dan outlet lainnya di kota Anda. Klik Selengkapnya

Close Menu